Untuk meyakinkanmu,
Saya ucapkan kata-kata yang saya pun masih ragu apakah kebenarannya benar-benar ada atau tidak pada diri saya. Untuk membuat kamu memilih saya, saya coba untuk mereka-reka apa yang kamu mau, menjadikan saya jauh dari saya yang sebenarnya.
Saya pun sungguh tidak tahu apakah benar atau salah semua yang saya lakukan. Yang saya rasa hanyalah bahwa saya tidak akan menyesali apa yang pernah saya pilih. Sesuatu yang telah menjadi keputusan saya.
Saya di sini masih terus menujumu. Menuju hatimu, tepatnya. Dan saya pun merasa bahwa kamu semakin membuka hatimu untuk saya. Kamu mulai mencintai saya. Ya, kita sudah sama-sama saling mencinta.
Tapi, kini terbesit sedikit ragu di hati saya.
Dapatkah saya terus menjaga cinta ini?
Mampukah kamu merawat kasih ini?
Ah, saya tak mau ambil pusing. Biar saya jalani saja. Dan yang akan terjadi, biarlah terjadi. Karena saya ingin menikmati hidup, itu saja. Bersama kamu yang saat ini menjadi bunga hati hati saya, tentunya.
5/7/08
3/10/08
Masih tentang Q

Entah tinggal berapa lama lagi kan kumilikki kebahagiaan bersamamu. Apakah telah mendekati ujungnya, atau masih diberi jalan yang panjang tuk saling membagi indahnya hidup.
Ah, entahlah..
Sejak pertama kau ada dalam hidupku, aku telah menyayangimu. Walau rasa itu belum sehebat kini. Namun kupertegas, ketika itupun aku menyayangimu.
Labels:
Percik kisah,
Tetes hidup
2/26/08
Untuk 'Q'

Aku selalu memohon yang baik untukku. Tidak perlu yang terbaik, tapi semoga selalu menjadi yang paling beruntung.
Begitupun untukmu, selalu kudoakan setiap yg baik menjadi milikmu. Dan aku ada dalam bagian baik itu.
Tapi akan selalu ada masa dimana kita tidak bisa bersamaan meraih yang baik tersebut. Maka kurelakan kau yang meraihnya. Dan bila memang ternyata yg baik itu tersemat untukku, kan kubagi kebahagiaan itu brsamamu.
Coz life's not always beautiful, so i need u 2 share my life with.
Labels:
Percik kisah,
Tetes hidup
2/25/08
Aku, kita.

Langkahmu,
Masihkah kan menujuku?
Meski suratan kini memberi jalan yang berbeda tuk kita tempuhi
Sahabat,
Aku menyayangimu
Meski kata tak sempat kuucap.
Labels:
Percik puisi,
tetes cinta
2/22/08
Dirimu

Ah,
Ku kehilangan apa yang tak pernah kumiliki
Seperti angin yang takkan pernah bisa kupeluk
Kuhanya bisa merasakannya
Dan membiarkan dia datang dan pergi bersama hembusnya
Banyak hal yg kan berubah, Semoga segala yang baik tetap ada pada kita.
Labels:
Percik puisi,
tetes sepi
1/5/08
Jati dan Perempuan hujan

Dulu,
Dalam pamitmu..
Kau bilang aku harus setegar jati
Dililit kemarau pilu namun tak melepas hidup
Percaya hujan kasihmu kan selalu membasahi ranting-ranting rindu
Meranggaskan pucuk-pucuk asmara
Yang sempat layu berguguran
Dengan rinai-rinai kelembutan
Menelusup pada tiap pori hati
Aku pernah setegar itu,
Tapi tidak lagi kini
Hembusan sepoi saja telah tumbangkanku
Seiring singgahmu yang sebatas janji, Perempuan hujan.
Labels:
Percik puisi,
tetes luka
12/12/07
Untuk Cahaya

Di penghujung temaram menjelang pagi,
Bersama embun cinta yang menetes di antara lekuk-lekuk daun hatiku
Leleran sejuk yang meresap pada tiap pori
Mencipta rindu semakin memburu
Di bagian ini,
Ada yang belum sempat kuceritakan pada Cahaya
Keberadaanmu yang dapat sempurnakan fotosintesis hidupku
Mungkin lusa,
Kan kupinang dirimu.
Labels:
Percik puisi,
tetes cinta
Subscribe to:
Posts (Atom)

