Showing posts with label tetes luka. Show all posts
Showing posts with label tetes luka. Show all posts

10/28/08

Gerimis, Hujan (second version)



Aku melihat gerimis menurunkan rintiknya setengah hati. Padahal sekujur tubuh awan sejak pagi telah menghitam: perih. Dan telah melantunkan pedihnya lewat genderang petir yang bersiluet menjadi keris-keris bercahaya: harusnya segera di sambut panah-panah hujan, rupanya tidak kali ini.

"Lekas naikkan busurmu, gerimis. Dan bidiklah, agar panah-panah hujan melesat ke hamparan kerontang itu!" titah awan.

Tampaknya Gerimis acuh saja. Malah semakin larut dalam diamnya. Semakin kuat mendekap mutiara-mutiara jiwanya agar tak berjatuhan.

"Hai, gerimis! Tak kau dengarkah genderang hujan telah lama kutabuh, tak kau lihatkah beban yang kurasa sedari pagi? Tak ada lagi putih yang tersisa. Warnaku tlah begitu kelam. Aku tak kuasa lagi menahan siklus alam, kasihanilah aku! kasihanilah partikel-partikel dahaga di dataran kering itu!" titah awan berganti rajuk.

"Rintikku terlalu indah tuk berganti hujan, wahai mendung awan!" kata-kata terakhir gerimis sebelum akhirnya panah hujan menghujami sesosok raga renta: bumi.

10/27/08

Gerimis, hujan.



Di balik jendela yang terbuka separuh, kumasih berdiri. Menanti Dewi rumpun padi menemukan jalan pulang. Berharap ia menyadari kekeliriuan pilihannya antara Gerimis dan Hujan.

Diantara dingin malam musim penghujan di penghujung oktober yang kian menusuk, ku terus menatap ke satu sudut, pertigaan jalan: tempat ketika lelaki hujan membawanya pergi. Meninggalkan Gerimis yang rintiknya terampas.

Gerimis, Hujan..
Ah, ku benci Hujan, walau ku setali dengannya. Tak menyukai keberadaannya, meski penciptaannya berselang detik dengan adaku.

Gerimis, Hujan..
Serupa namun berbeda.
Serupa namun menikam.

Gerimis, Hujan..
Terlahir dari Mendung yang sama: tapi satu terluka, satu melukai.

Di sebuah sudut kamar, Mendung menangis. Dialah yang paling terluka.

10/13/08

Heart


Hari ini langkahku terasa tak menapak di bumi.

Berada di sini, tapi hatiku tidak.

Jiwa-jiwa resah mengembara
Mencari setangkup tenang di perjalanan rasa

Asap amarah telah mengepul di ubun-ubun
Detik-detik membentuk titik api
Ah, sang merah menyala

Tuhan,
Beri aku jalan menuju telaga tenang-Mu
Kuingin bercerita dan membasuh jiwa
Kemudian menenggelamkan resah dan memadamkan amarah

Di setapak ini, ku masih mencari.

9/17/08

Kisah sepatu



Aku tak ubahnya sepatu bagi hidupmu.


Sepatu.
Kamu tahu sepatu? Tentu saja kamu tahu.

Sepatulah yang setiap harinya melindungi kakimu dan memperindah penampilanmu. Tapi lihat keberadaannya, berada di telapak kakimu. Kau injak-injak dia di setiap langkahmu. Kau biarkan ia terus terinjak dan menopang beban tubuhmu.

Lalu dia mahkota. Tak selalu bersamamu. Tapi di setiap detak jantungmu, begitu kau agungkan dia. Kau letakan ia di kepalamu, anggota tubuh yang paling kau sucikan. Kau terus sanjung dia. Dan ketika tak bersamanya, kau simpan ia di kotak terindah perhiasan hatimu.

Dan ternyata aku sepatu di matamu. Kuselalu mencoba melindungi dan memperindah taman hatimu. Sedang kau terus menginjak-injak kuntum rasaku. Kuterus menopang beban ranting mawarmu, tapi durimu malah menusuk-nusuk batang jiwaku, kau tak pernah menganggapku ada.

Tapi warna kuntum rasaku tulus menyanyangimu, perempuan. Melindungi dan menjagamu, memperindah hidupmu, agar tak hanya abu-abu.
Warna samar yang selalu dia suguhkan untukmu.

Kan kubiarkan kuterinjak agar kau tak pernah terluka. Terus terinjak dan bermain luka: perih.

Biarkan kutetap memberikan yang terbaik untukmu, meski kau tidak. Hingga di ujung waktu ku tak mampu lagi menghapus lukamu, karena kupun dipenuhi luka. Tak mampu lagi menjadi pendengar dan penopang bebanmu.

Kita berpisah. Entah ku yang pergi, atau kau yang membuangku.

9/11/08

Telah berpulang (saudariku)



Adalah kematian, kedatangannya merupakan sebuah misteri.

Lahir, hidup kemudian mati. Itulah suratan manusia di muka bumi ini. Dan kematian adalah ujung perjalanannya (sesungguhnya awal dari kehidupan kekal di akhirat).

Terlahir dengan menangis, tetapi mereka tersenyum bahagia akan hadir kita. Lalu kita menjalani hidup ini dengan sebaik-baiknya. Dan insya Allah, di akhir usia, ketika menutup ajal kita kan mati dengan tersenyum dan mereka merasa kehilangan dan kan terus mengenang kebaikan yang kita tabur selama mendiami daratan bumi.

Dan pagi kemarin, seorang sepupu meninggal karena kecelakaan mobil bersama seorang sopir dan empat penumpang lainnya dalam angkot yang ia naiki. Naas, mobil tersebut tertabrak kereta api.

Perempuan itu (sepupuku) telah pergi, meninggalkan seorang putri kecil, suami, ayah, ibu dan tiga orang adiknya.

Sepupuku benar-benar pergi. Selepas subuh, dalam perjalanannya menuju tempat kerja, ruang nafkah keluarganya selama ini. Dia pergi dalam puasanya, dalam tujuan sucinya, di Ramadhan ini.

Selamat jalan..
Kami menyayangimu, bangga akan adamu selama ini.

Selamat jalan saudariku..
Semoga surga Allah tempatmu berpulang. Amin.

9/3/08

Bagilah pedihmu (sahabat)


Berbagi, adalah koridor manis tuk mengikis pedih.

Lihat, sahabat!
Tubuhmu bergetar hebat. Maka, luapkan saja amarahmu, alirkan luka itu: mari kita berbagi! Terasa oleh hatiku bebanmu, tak mampu lagi kamu membendung luapannya. Sayat-sayat luka yang kukira telah sembuh, leler-leler perih yang kupikir telah lama mengering, ternyata semakin parah.

Aku di sini, sahabat!
Masih berjalan di setapak yang sama, masih tetap mengagungkan persahabatan kita. Aku masih menempatkanmu sebagai terbaik dalam runutan perkawananku. Terbaik. Ya, masih kamulah yang terbaik, yang tak memberikan luka, meski kadang kumencubit gumpal rasamu.

Mari sahabat, sandarkan kepalamu di pundakku. Bersama peluk, deburkanlah riak gundahmu. Lafadzkan ayat-ayat luka yang menggema di rongga dadamu. Aku tak mau samar, tak ingin meraba rasa. Lantunkan, agar kumampu memberi sudut pandangku dengan benar akan masalahmu.

Sahabat,
Delapan belas tahun bukanlah masa yang singkat bagi perjalanan kebersamaan kita. Walau sama-sama kita sadari, takkan pernah seratus persen kita saling memahami. Tapi kita sama merasa, akulah yang paling mengerti kamu, dan kamulah yang paling mengerti aku.

Sahabat,
Menangis memang bukan hal yang biasa dilakukan oleh laki-laki dalam menghadapi masalah. Tapi bukanlah hal yang salah, apalagi hina untuk kamu lakukan. Menangislah, bila dengan menangis dapat kamu hapuskan pedihmu, bersama rinai air mata yang mengalir.

Kutahu,
Dirimu tak selemah aku dalam menghadapi masalah. Tapi mampu kubaca, jiwamu telah begitu lelah menggeluti masalah yang kian rumit, semakin pekat.

Sahabat,
Mari sejenak lupakan bebanmu. Mari kita berlayar ke masa lalu. Mengenang hal-hal manis yang pernah kita alami. Membuka kembali bait-bait indah dalam puisi hidupmu. Agar kembali lega ruang rasamu, hingga kamu dapat kembali tersenyum lepas.

Inilah yang bisa kuberi, kuncup-kuncup doa, semoga bahagiamu bermekaran dalam nyata. Layu dan gugur segala penatmu. Kuberdoa..

8/4/08

Meluka atau dirongrong dahaga


Akan lukaku,
Jangan kau janjikan kau jadi penawarnya
Sedang kau tak bisa menemaniku sepanjang umurmu

Tentang dahagaku,
Jangan kau tawarkan hatimu sebagai pelepasnya
Sedang cintamu telah kau ikatkan pada yang lain

Biarkan saja ku terus meluka, atau dirongrong dahaga
Karena bersanding denganmu bukan lagi mimpi yang kutuju

Kulepas semua yang kuinginkan
Biarku meluka, atau dirongrong dahaga
Sampai luka dan dahaga itu hilang dengan sendirinya
Entah tersapu angin waktu
Atau terbasuh alir cinta baru

Aku takkan mati atau terhenti
Hanya karena dijerat sang patah hati

Ku takkan mati karenanya.

Lalu apa yang telah kuberi (untuk sahabat)


Hari-hari berat,
Di kala beribu pucuk beban kian meranggas di pohon jiwamu
Dan serabut-serabut luka kian mengakar

Dimatamu,
Dapat kutangkap bergaris-garis sembilu
Di antara pendar senyum yang kau bagi pada mereka
Kutahu ada kerapuhan dibalik tegar yang kau coba bangun

Maka apa yang bisa kulakukan
Sedang ku selalu sibuk menghitung lukaku
Yang kuanggap sejumlah rinai hujan yang menetes tadi pagi
Padahal hanya segulung ombak dan kau lautan

Lalu apa yang telah kuberi padamu
Sedang aku mengaku sahabat sejatimu

Hanya sebatas menangkap pilumukah, tanpa menghapusnya?

Tidak, sahabat!
Kan kupatahkan pisau yang merobek-robek rasamu
Kan kugugurkan setiap pucuk bebanmu
Lalu kubakar semua serabut luka itu
Agar tak lagi bunga luka bermekaran di taman sukmamu
Hingga sang bahagia dapat menemukan pintu hatimu
Dan memilih tuk menetap di sana.

Maka episode luka ini berakhir.

*sahabat, seperti yang terus kau ucapkan padaku, bahwa Allah sedang menilai setinggi mana tingkat kesabaranmu. Maka terus bersabarlah, hingga suatu pagi, kan kau reguk manis hasil kesabaranmu.

8/2/08

Karena memaafkan bukan berarti melupakan


Disini,
Ada hati yang pernah terluka
Adalah hati yang sempat kau cabik-cabik menjadi potongan-potongan nyeri
Adalah hati yang bertahun-tahun mencoba menghanyutkan cinta
Pada derasnya aliran pilu di sungai sakit hati yang kau cipta untukku

Aku sempat menantimu,
Berharap kau kembali membawa penawar luka
Mengobatiku..

Dan kusadar,
Menantimu adalah kesalahan
Ternyata waktulah penyembuh lukaku

Lalu mengapa kau kembali
Ketika ku tak lagi membagi waktu tuk bercumbu dengan luka

Kau ingin menggenggam setangkai maafku
Yang kemudian kau tanam di lahan penyesalanmu
Dan berharap kukembali pada gersangmu

Bila itu yang kau mau
Kuberikan kau seikat
Bukan hanya setangkai

Tapi maaf,
Kembali bersamamu adalah langkah mundur bagiku
Sedang ke depan merupakan tujuanku

Dan ku takkan tumbuh disana
Karena memaafkan bukan berarti melupakan.

7/3/08

Aku dan laramu



Sahabat,
Kau selalu mencoba untuk kuat
Dimataku kau begitu hebat
Tak pernah kau tunjukkan gurat sendu di wajahmu

Sahabat,
Hatiku adalah padang resah
Mulutku merupakan pohon keluh
Dari lidahku rimbun keluh kuperdengarkan padamu
Tentang lara dan kecewa
Tentang pedih dan luka hati

Sahabat,
Inilah yang tlah lama hilang dan akhirnya kembali
Kau perdengarkan keluhmu
Kau kisahkan laramu

Dan kubahagia,
Bukan pada derita yang bertamu pada hidupmu
Tapi bahagia akan keputusanmu tuk kembali membagi lukamu padaku
Membiarkanku ikut merasai nyeri itu

Esok hari baru, semoga luruh segala laramu.

6/28/08

Adalah luka


Seperti pisau yang mengiris-iris
Mencintaimu adalah luka
Merasakan sejumput bahagia dibelantara nyeri
Dan mencintaimu masih adalah luka

Entah cinta, entah kebodohan
Karena mencintaimu adalah ego
Karena mencintaimu adalah menangguk dusta-dusta dari mulutmu

Dan ku terus mencintaimu
Padahal mencintaiku mungkin tak pernah kau lakukan
Meski penuh luka, dusta kadang tampak indah

Kau rajutkan pelangi semu di hari berwarna abu-abu
Kau gantungkan asa hingga ku nyaris mati terjerat.

Note: hasil menggubah dari puisi fansrhoma

6/25/08

Cinta adalah sakit


Hari ini cinta adalah sakit
Ketika ia sadar telah memilih hati yang salah
Hati yang mencintai cinta yang lain
Tapi cinta tetap menunggu

Besok..
Cinta masih adalah sakit
Sendirian memiliki perasaan ini

Sampai kapan hati itu mencintai yang lain?
Tak bisakah ia memberi kesempatan cintaku untuk masuk?

Dan selamanya..
Cinta adalah sakit
Karena memilih hati yang takkan pernah terbuka untuknya.

Note: puisi Verena Elisa

5/24/08

Hati yang menangis

Aku ingin bicara padamu, hatiku. Aku ingin menenangkanmu dari kegalauan yang menyesakkan dadamu. Kutahu ada kesedihan berombak di dalamnya.

Lihat!
Kamu menangis, sayang. Air matamu terus mengalir, membentuk siluet luka yang jelas tergambar. Pedihmu tampak begitu dalam. Sedalam itukah cintamu padanya, sehingga kau tak sanggup menerimanya mendua hati?

Wahai sukma yang menggelora, tidurlah! Biarkanlah ia, ragaku yang kesumat terlelap. Melupakan amarah yang berkecamuk.

Lelaplah..

1/5/08

Jati dan Perempuan hujan




Dulu,
Dalam pamitmu..
Kau bilang aku harus setegar jati
Dililit kemarau pilu namun tak melepas hidup
Percaya hujan kasihmu kan selalu membasahi ranting-ranting rindu
Meranggaskan pucuk-pucuk asmara
Yang sempat layu berguguran
Dengan rinai-rinai kelembutan
Menelusup pada tiap pori hati

Aku pernah setegar itu,
Tapi tidak lagi kini

Hembusan sepoi saja telah tumbangkanku
Seiring singgahmu yang sebatas janji, Perempuan hujan.

12/6/07

Rintih gerimis


Dalam sebuah novel cinta,
Kuselipkan beberapa bait tentang gerimis di antara bab hujan yang mengambil nyanyian perawan sang perempuan gerimis

Tentang rinai yang mengganti air mataku

Ada kehilangan yang bisa kau rasakan di setiap tetesnya
Seperti ia yang melenyapkan gerimis
Deras hujan yang menggerus hati
Menghanyutkan ranah cinta yang pernah kupijak

"Aku mencintai gerimis, jauh lebih besar dari aku mencintai hujan". Ujarmu

Kalimat yang sempat memberi hangat pada ruang hati yang beku
Laksana selimut bagi tubuh yang menggigil

Tapi gelegar petir menyadarkanku
Betapapun gerimis mengisi sukmamu
Hujanlah yang kau pilih tuk mengairi ladangmu

Dan gerimis ini hanyalah kenangan
Menjadi kisah yang terlumat hujan, lelaki yang mengawinimu.

11/26/07

Pergilah..




Senandung hati yang mana dapat kulantunkan
Bila aku kehilangan suara
Tak ada lagi nada asmara,
Seiring tuli yang sekonyong-konyong meruas di pendengaranku


Sembilan purnama berganti gerhana


Duh, perempuan...
Bagaimana aku melukis indah pelangi
Bila hanya hitam dan putih warna yang kau tinggalkan
Atau itukah warna pelangi untukku?


Bagaimana dapat kuriakkan gelombang hatiku yang kian bergemuruh
Bila tak lagi kau beri tempat kumenepi
Inikah ujung gemuruh itu?


Akhirnya,
Satu pualam kelam kau letakkan dalam periuk hatiku
Membuatnya terus terbakar tanpa bisa ternanak
Panas, menggosongkan pigura cinta di dinding hatiku


Wahai perempuan,
Bawalah serta cinta yang pernah kau titipkan di hatiku
Bila tak lagi kau ikatkan ia padaku
Karena perih bila dicintai tapi tak memilikki
Dan nelangsa bagi sang pangeran
Bila menikahimu tapi tak mengawini cintamu


Bawalah,
Dan letakkan di dalam brangkas hatinya
Ia kan menguncinya rapat
Menjaga cintamu sepanjang hidupnya
Tanpa bisu kucuri


Haturkan sujudku sang jelata,
Bagi pandita ratu dan rajamu
Yang tak menjadikanku pangeran bagi hidupmu


Kulepas dirimu...


Mungkin memang seperti inilah takdir yang harus kita jalani.