8/7/08

Bersyukurlah!

Terlalu banyak keluh, jiwa meluruh rapuh.

8/4/08

Meluka atau dirongrong dahaga


Akan lukaku,
Jangan kau janjikan kau jadi penawarnya
Sedang kau tak bisa menemaniku sepanjang umurmu

Tentang dahagaku,
Jangan kau tawarkan hatimu sebagai pelepasnya
Sedang cintamu telah kau ikatkan pada yang lain

Biarkan saja ku terus meluka, atau dirongrong dahaga
Karena bersanding denganmu bukan lagi mimpi yang kutuju

Kulepas semua yang kuinginkan
Biarku meluka, atau dirongrong dahaga
Sampai luka dan dahaga itu hilang dengan sendirinya
Entah tersapu angin waktu
Atau terbasuh alir cinta baru

Aku takkan mati atau terhenti
Hanya karena dijerat sang patah hati

Ku takkan mati karenanya.

Lalu apa yang telah kuberi (untuk sahabat)


Hari-hari berat,
Di kala beribu pucuk beban kian meranggas di pohon jiwamu
Dan serabut-serabut luka kian mengakar

Dimatamu,
Dapat kutangkap bergaris-garis sembilu
Di antara pendar senyum yang kau bagi pada mereka
Kutahu ada kerapuhan dibalik tegar yang kau coba bangun

Maka apa yang bisa kulakukan
Sedang ku selalu sibuk menghitung lukaku
Yang kuanggap sejumlah rinai hujan yang menetes tadi pagi
Padahal hanya segulung ombak dan kau lautan

Lalu apa yang telah kuberi padamu
Sedang aku mengaku sahabat sejatimu

Hanya sebatas menangkap pilumukah, tanpa menghapusnya?

Tidak, sahabat!
Kan kupatahkan pisau yang merobek-robek rasamu
Kan kugugurkan setiap pucuk bebanmu
Lalu kubakar semua serabut luka itu
Agar tak lagi bunga luka bermekaran di taman sukmamu
Hingga sang bahagia dapat menemukan pintu hatimu
Dan memilih tuk menetap di sana.

Maka episode luka ini berakhir.

*sahabat, seperti yang terus kau ucapkan padaku, bahwa Allah sedang menilai setinggi mana tingkat kesabaranmu. Maka terus bersabarlah, hingga suatu pagi, kan kau reguk manis hasil kesabaranmu.

8/2/08

Karena memaafkan bukan berarti melupakan


Disini,
Ada hati yang pernah terluka
Adalah hati yang sempat kau cabik-cabik menjadi potongan-potongan nyeri
Adalah hati yang bertahun-tahun mencoba menghanyutkan cinta
Pada derasnya aliran pilu di sungai sakit hati yang kau cipta untukku

Aku sempat menantimu,
Berharap kau kembali membawa penawar luka
Mengobatiku..

Dan kusadar,
Menantimu adalah kesalahan
Ternyata waktulah penyembuh lukaku

Lalu mengapa kau kembali
Ketika ku tak lagi membagi waktu tuk bercumbu dengan luka

Kau ingin menggenggam setangkai maafku
Yang kemudian kau tanam di lahan penyesalanmu
Dan berharap kukembali pada gersangmu

Bila itu yang kau mau
Kuberikan kau seikat
Bukan hanya setangkai

Tapi maaf,
Kembali bersamamu adalah langkah mundur bagiku
Sedang ke depan merupakan tujuanku

Dan ku takkan tumbuh disana
Karena memaafkan bukan berarti melupakan.

7/31/08

Karena hidup adalah berjuang


Hidup adalah berjuang
sekali, dua kali, dan terus tanpa henti

Hidup masih adalah berjuang
Sedang jiwaku telah begitu lelah
Tapi menyerah adalah berhianat

Maka kuterus berjuang
Di setengah jiwa yang hampir hilang

Melawan ego dan membunuh sifat burukku, ternyata perjuangan terberat sepanjang hidup.

7/30/08

Resah


Apa karena dipenuhi bintik dosa, sehingga kanvas rasaku jauh dari tenang. Selalu saja terlukis gurat gelisah di polosnya. Warna ketakutanpun kian tertuang, menyempurnakan resahku.

Kenapa kubiarkan warna resah dan gurat takut kian memoles, bahkan semakin dominan, bukankah tujuanku melukis bahagia?

Mengapa ku tak memberangus habis segala resah dan rasa takut tak beralasan itu? Atau memang sebenarnya aku yang selalu mengundang mereka hadir, menjadikan mereka teman setiaku?
Entahlah..

Otakku selalu buntu ketika berpikir. Semangatku seringkali getas ketika berjuang. Pemikiranku selalu saja berubah, dibergantinya waktu.

Lalu kan kau sebut apa, jenis manusia sepertiku ini? Pecundangkah itu?

Kini, menulispun ku benar-benar tak berarah. Hanya mengungkapkan kesemrawutan jiwa dan mengaksarakan bait-bait rasa tanpa makna. Kau boleh menertawakan aku, karena akupun sedang ingin menertawakan caraku menghadapi hidup.

Dan tulisan ini terhenti disini.

7/28/08

Tak bisa


Aku mencintaimu, ternyata kau tidak. Lalu kau menawarkan persahabatan padaku.

Jawabku: "maaf ku tak bisa menerimanya. Karena kutahu itu langkah pertama kau meninggalkanku".