7/3/08

Senja yang berbeda


Ada yg terasa berbeda senja ini,
Dawai kepiluan mengalun syahdu
Kidung lara terdengar menyejukan

Ya,
Aku didekap bahagia
Tombak-tombak yang ingin kau pakai tuk melukaiku
Justru menjadi tongkat penopangku
Api yang kau siapkan tuk membakarku
Malah menjadi obor semangatku

Ku benar-benar bahagia,
Tak peduli seberapa besar kau ingin menyakitiku
Tak peduli betapa bara kau ingin menghancurkanku

Ku tlah menghapusmu, dan ku bahagia.

Aku dan laramu



Sahabat,
Kau selalu mencoba untuk kuat
Dimataku kau begitu hebat
Tak pernah kau tunjukkan gurat sendu di wajahmu

Sahabat,
Hatiku adalah padang resah
Mulutku merupakan pohon keluh
Dari lidahku rimbun keluh kuperdengarkan padamu
Tentang lara dan kecewa
Tentang pedih dan luka hati

Sahabat,
Inilah yang tlah lama hilang dan akhirnya kembali
Kau perdengarkan keluhmu
Kau kisahkan laramu

Dan kubahagia,
Bukan pada derita yang bertamu pada hidupmu
Tapi bahagia akan keputusanmu tuk kembali membagi lukamu padaku
Membiarkanku ikut merasai nyeri itu

Esok hari baru, semoga luruh segala laramu.

6/28/08

Adalah luka


Seperti pisau yang mengiris-iris
Mencintaimu adalah luka
Merasakan sejumput bahagia dibelantara nyeri
Dan mencintaimu masih adalah luka

Entah cinta, entah kebodohan
Karena mencintaimu adalah ego
Karena mencintaimu adalah menangguk dusta-dusta dari mulutmu

Dan ku terus mencintaimu
Padahal mencintaiku mungkin tak pernah kau lakukan
Meski penuh luka, dusta kadang tampak indah

Kau rajutkan pelangi semu di hari berwarna abu-abu
Kau gantungkan asa hingga ku nyaris mati terjerat.

Note: hasil menggubah dari puisi fansrhoma

6/25/08

Kisah daun


Ada lima, bagiku empat. Terikat dan mengikat dengan kuat. Tersatukan dan erat menyatu. Memberikan hati, memeluk syahdu. Dan, aku, mereka, menyebutnya pohon persahabatan.

Dengan bibit peduli mencipta buah kasih sayang.

Akar, batang, ranting dan daun. Mereka bilang aku akar, padahal aku merasa jiwaku daun. Dan aku memang daun.

Takkan ada daun bila tak ada ranting yg menempel dibatang, dan batang yang mampu tegar berdiri karena topangan akar yang kuat. Hijauku terjaga karena mereka. Membuatku terus merasai kasih sayang, buah yang tercipta begitu ranum.

Delapan tahun rimbun. Kemudian kekeringan mendera.
Menjadikan daun layu, menguning dan mengering. Ranting mengering, batang ikut, dan akarpun turut.

Tahun kesembilan pohon mati. Padahal daun yang kering masih terus bertahan untuk tetap menyatu dengan ranting. Tapi pohon tumbang.

Bersama klorofil air mata yang tlah lama mengering, ia terlepas dari pohon itu. Membiarkan angin sesuka hati menerbangkannya. Membawanya pergi~entah sejauh mana ia kan terbawa. Hingga akhirnya membusuk. Lebur.

Cinta adalah sakit


Hari ini cinta adalah sakit
Ketika ia sadar telah memilih hati yang salah
Hati yang mencintai cinta yang lain
Tapi cinta tetap menunggu

Besok..
Cinta masih adalah sakit
Sendirian memiliki perasaan ini

Sampai kapan hati itu mencintai yang lain?
Tak bisakah ia memberi kesempatan cintaku untuk masuk?

Dan selamanya..
Cinta adalah sakit
Karena memilih hati yang takkan pernah terbuka untuknya.

Note: puisi Verena Elisa

6/24/08

Jauh, tinggal kenangan

Pernah ada..
Rasa cinta antara kita
Kini tinggal kenangan

Ingin kulupakan..
Semua tentang dirimu
Namun tak lagi kan seperti dirimu.. Oh bintangku

Jauh kau pergi meninggalkan diriku
Disini aku merindukan dirimu

Kini kucoba mencari penggantimu
Namun tak lagi kan seperti dirimu.. Oh kekasih

Kuingin memiliki nafasmu jikala aku mati..
Bisakah aku memiliki nafasmu jikala aku mati?

Note: lirik lagu caramel band

6/15/08

Truth




Kebenaran hilang dari hidupku. Entah ku yang melepaskannya, atau ia yang tlah muak dengan kebusukan yang kian menusuk. Kebenaran terbang, dengan sayap-sayapnya yang semakin kekar.

Otakku tak berpikir dengan benar. Mataku tak menatap dengan benar. Hatiku pun tak merasa dengan benar. Langkah kian membelot, tak menuju arah yang semestinya.

Kebenaran tak selalu benar. Aku mencintaimu cinta, dan itu kebenaran yang seharusnya tak terjadi.

Jiwaku mengambang, terlepas dari ragaku, namun pula tak merasuk ke tubuhmu. Cinta ini membumbung, dan tak ada yang menggenggam.

Rasa yang salah, menuju tempat yang salah dan tetap menjadi kesalahan.

Disini, masih hanya ada luka.